Monday, October 31, 2016

Foto Hasil Karya Kriegsberichter Artur Grimm

 Unternehmen 25: konvoy kendaraan lapis baja (terlihat diantaranya adalah Sd.Kfz.251 dan Panzer II) dari 11. Panzer-Division "Gespensterdivision" (Divisi Hantu) / XIV Armeekorps (motorisiert) / 12.Armee melewati kendaraan-kendaraan yang rusak serta truk yang terbakar, yang merupakan kepunyaan dari AD ke-5 Yugoslavia di Niš, sebuah kota Serbia yang terletak di pinggiran sungai Morava. Empat hari kemudian - setelah awalnya kampanye militer yang mudah tapi kemudian berubah menjadi lebih sulit dan penuh rintangan - divisi pimpinan Generalleutnant Ludwig Crüwell tersebut berhasil mencapai Beograd, ibukota Yugoslavia. Dalam berita propaganda tentang pergerakan unit ini yang kemudian dipublikasikan, pasukan pertahanan Yugoslavia digambarkan sebagai satuan-satuan militer yang tidak kompeten serta mudah untuk ditaklukkan. Tapi khusus untuk pihak yang bertahan di sekeliling Beograd, mereka mendapat 'penghormatan' khusus: "Harus kami akui bahwa mereka memanfaatkan alam sekitar dengan maksimal, dan mempertahankan ibukota mereka dengan penuh determinasi dan keberanian". Foto ini diambil pada tanggal 9 April 1941 oleh Kriegsberichter Artur Grimm dari Propaganda-Kompanie (PK) 691


Seorang perwira Heer dari unit artileri menjabat tangan salah seorang bintaranya setelah selesainya upacara pernikahan proxy (ferntrauung) singkat bagi si bintara yang berpangkat Gefreiter (Kopral). Meriam berat dari baterai unit dipajang dengan moncong ke atas sebagai penghias upacara. Foto yang diambil oleh Kriegsberichter Artur Grimm (PK 691) ini dikatakan diambil di dekat Stalingrad musim panas 1942 dan pertama kali dipublikasikan dalam majalah bulanan "Signal"


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com
www.ww2colorfarbe.blogspot.com

Sunday, October 30, 2016

Foto Bunga dan Tanaman

 Seorang perwira Wehrmacht Jerman dengan seragam necis menyempatkan diri untuk membeli satu buket bunga lili lembah (muguet) di Paris, Prancis, pada tanggal 1 Mei 1941. Di tanggal itu biasanya bangsa Prancis saling memberikan bunga lili lembah ke teman-teman terdekatnya, yang dianggap sebagai bunga pembawa keberuntungan



Oberfeldwebel Walter Rappholz - seorang Zugführer dari Panzerjäger-Abteilung 616 (Selbstfahrlafette) - berpose sambil memegang buket bunga tak lama setelah usainya upacara penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes untuk dirinya yang diselenggarakan pada tanggal 13 November 1944 (10 hari setelah pemberitahuan resminya melalui radio). Rappholz mendapatkan medali paling bergengsi ini setelah setelah berprestasi menghancurkan 16 tank musuh dalam pertempuran Celah Dukla (Ofensif Dukla-Prešov) yang berlangsung dari tanggal 8 September s/d 28 Oktober 1944. Foto oleh Kriegsberichter Lucke


Sumber :
www.5sswiking.tumblr.com
www.ritterkreuztraeger.blogspot.com

Tuesday, October 18, 2016

Foto Unternehmen Herbstgewitter (Operasi Hujan Musim Gugur)

  Unternehmen Herbstgewitter (Operasi Hujan Musim Gugur): Dengan menggunakan perahu Dubrovnik tua "Orsan" (berasal dari Italia, buatan tahun 1896), para anggota 7. SS-Freiwilligen-Gebirgs-Division "Prinz Eugen" bersama dengan pasukan Penjaga Tanah Air Kroasia berlayar bersama menuju semenanjung Pelješac, dimana mereka akan bertempur melawan Partisan (NOVJ) dari Brigade Dalmatia ke-13. Pertempuran yang terjadi berlangsung sesengit yang diperkirakan, dan karenanya pula penggunaan tanda pangkat dalam tubuh Divisi Prinz Eugen untuk sementara ditiadakan (disebabkan begitu banyaknya para perwira yang terlibat langsung dalam mengarahkan prajurit mereka, dan resiko tinggi bila terlihat oleh sniper musuh. Bahkan komandan divisi, SS-Brigadeführer und Generalmajor der Waffen-SS Carl von Oberkamp, ikut pula untuk memimpin langsung anakbuahnya). Dalam fase pertama pertempuran, Divisi Prinz Eugen menderita korban dalam jumlah yang signifikan: satu batalyon musnah, salah satu komandan batalyon tertangkap dan dieksekusi, dan Oberkamp - yang terlalu lemah untuk melanjutkan tugasnya - meminta untuk diizinkan cuti ditengah-tengah pertempuran! Jabatan komandan divisi kemudian untuk sementara diambil alih oleh SS-Standartenführer August Schmidhuber. Karena begitu luarbiasanya kegigihan yang ditunjukkan oleh para etnis Jerman asal Yugoslavia yang terlibat dalam pertempuran tersebut, Hitler yang terkesan lalu memerintahkan agar salah satu dari mereka diangkat menjadi komandan baru dari kompi pertama pengawal SS pribadinya - yang merupakan sebuah kehormatan besar dan pengakuan tertinggi! Foto diambil oleh Kriegsberichter Dach pada tanggal 23 Oktober 1943


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com

Monday, October 17, 2016

Senjata Dek U-Boat

Pekerjaan pemeliharaan dan perawatan pada pada senjata 37mm anti pesawat udara yang terpasang di dek U-boat, yang dilakukan ditengah ganasnya ombak lautan, dengan jaket pelampung serta tambang keselamatan sebagai satu-satunya alat pengaman. U-boat Kriegsmarine dari Tipe I, VII, IX dan X memiliki senjata tambahan yang sangat kuat yang ditempatkan di dek atas. Setiap kapal memiliki satu buah senjata ini yang terpasang di depan menara komando dan, apabila ditangani oleh awak yang handal, mereka bisa memuntahkan 15-18 tembakan dalam satu menit. Senjata dek sering digunakan untuk menghabisi kapal yang rusak atau menenggelamkan kapal berukuran kecil. Awaknya rata-rata terdiri dari 3 s/d 5 orang, dan biasanya dikomandani oleh Perwira Pengawas Kedua (IIWO). Untuk dapat menggunakan senjata ini, maka U-boat harus muncul di permukaan, sehingga karenanya secara umum dia tidak difungsikan manakala terdeteksi adanya pesawat musuh di sekitar.Untuk mengangkut amunisinya, diperlukan rantai manusia (dengan tiga orang berada di dek) untuk membawa peluru dari ruang penyimpanan utama di bawah ruang kontrol sampai ke senjata di luar. Selongsong yang telah digunakan biasanya lalu dibawa kembali ke dalam. Sebagian U-boat dilengkapi dengan ruang penyimpanan amunisi kecil yang tahan air di dek agar dapat mulai menembak dengan segera manakala perintah telah diberikan. U-boat Tipe II untuk patroli pesisir pantai tidak dilengkapi dengan senjata dek. Pada tahun 1937 dibuat rancangan untuk U-boat penjelajah Tipe XI yang rencananya dipersenjatai dengan empat buah senjata dek kaliber 127mm di dua menara yang terpisah. Rancangan ini tidak pernah masuk dalam tahap produksi


Sumber :
Buku "Wolfpacks At War: The U-Boat Experience In WWII" karya Jak Mallmann Showell

Foto Berwarna U-Boat dan U-Bootwaffe

Setelah kesuksesan yang tidak terduga dari tahun-tahun pertama peperangan serta liputan propaganda secara meluas oleh media radio dan cetak, minat masyarakat Jerman terhadap satuan U-boat dan orang-orangnya menjadi bertambah besar dari waktu ke waktu. Pemerintahan Nasional-Sosialis (Nazi) lalu memanfaatkan minat semacam ini - dan juga entusiasme kaum mudanya - untuk menarik sukarelawan yang diperlukan. Bilamana memungkinkan, U-Bootwaffe mempersilakan warga sipil untuk mengakses kapal-kapal selamnya, sehingga remaja Jerman khususnya dapat melihat langsung apa yang sebelumnya hanya mereka ketahui melalui media. Selain itu, awak kapal yang sukses dalam patrolinya seringkali ditugaskan untuk mengunjungi kota sponsor mereka; dan kapten U-boat berkeliling negeri untuk berpidato di sekolah di hadapan para anggota belia Jungvolk serta Hitlerjugend. Pihak Kriegsmarine memanfaatkan setiap kesempatan yang tersedia untuk dapat memajang kapal-kapal selamnya di hadapan khalayak ramai. Salah satu kesempatan semacam itu adalah acara Zoppoter Woche (Minggu Zoppot) yang diselenggarakan pada musim panas tahun 1941. Zoppot adalah sebuah kota pantai di Teluk Danzig yang terkenal dengan fasilitas spa dan wisatanya. Zoppoter Woche sendiri digelar setiap tahun, dari pertengahan sampai akhir bulan Juli, dan merupakan perayaan olahraga besar dengan kompetisi kapal layar, balap kuda dan berenang. Selama seminggu penuh pusat-pusat keramaian kota spa tersebut disesaki oleh pengunjung. Salah satu lokasi yang tersedia adalah dermaganya, yang membentang sepanjang 500 meter sampai ke Teluk Danzig dan menawarkan pemandangan indah wilayah pantai serta Grand Hotel Zoppot pada para pengunjungnya. Grand Hotel sendiri pernah menjadi kediaman Adolf Hitler selama satu minggu saat berlangsungnya fase pembuka invasi Jerman atas Polandia beberapa bulan sebelumnya. Disanalah tepatnya, selama berlangsungnya perhelatan Zoppoter Woche di bulan Juli 1941, U-403 bersandar untuk menarik perhatian para pengunjung yang datang


 Foto berwarna ini memperlihatkan Kriegsberichter Oberleutnant Gerhard Garms (kanan) sedang ngobrol dengan seorang awak U-boat di atas menara pengawas U-404, bulan Agustus 1942. Dari musim semi sampai musim gugur tahun 1942, Oberleutnant Garms bertugas sebagai koresponden foto dan film di flotila-flotila U-boat yang berpangkalan di pantai Atlantik Prancis. Disana dia mengambil banyak foto dan gambar bergerak yang memperlihatkan saat kapal-kapal selam Jerman berangkat dan kembali ke pangkalannya, yang kemudian muncul kembali di banyak buku yang terbit pasca perang. Garms juga menyempatkan diri untuk ikut serta dalam setidaknya dua patroli U-boat. Operasi pertamanya adalah patroli kedelapan dari U-552 di bawah Kapitänleutnant Erich Topp, during which the submarine operated off the American coast. It was on this patrol that Garms filmed the brightly-lit skyline of an American city. Footage shot during this operation, which lasted from 7 March until 27 April 1942, appear in "Der Deutsche Wochenschau" Nr.599, which was shown in theaters in Germany and occupied Europe. In August 1942 Garms boarded Kapitänleutnant Otto von Bülow's U-404 for his second patrol. Garms' father had established Nordmark-Film in Kiel in 1920 and had taught him the film trade from the ground up. For this assignment Garms came up with something special. A mount for his Askania Z camera was built to his specifications in the workshops in St. Nazaire and mounted on the port side of the U-404's conning tower. Tests showed that the camera was capable of functioning to depths of 60 meters in the pressure capsule. Garms wanted to film the submarine diving and carrying out underwater maneuvers, and he succeeded. The Askania Z was a sophisticated 35-mm camera which the Askania AG had been producing in Berlin since 1929. This type of camera was used, for example, to shoot the UFA film "Blauer Engel" (Blue Angel) with Marlene Dietrich in 1929-30. The weight of the camera without lens was 25 kilograms. Garms films are familiar with all U-boat enthusiasts, the newsreel images showing the conning tower of a U-boat nearing the surface, finally emerging and then plowing through the Atlantic. Other impressive footage shows waves breaking the conning tower in heavy seas.







 U-403 (kapal selam Tipe VIIC) mendapat penugasan pertamanya beberapa waktu sebelumnya, tanggal 25 Juni 1941. Menjadi bagian dari 5. U-Flottille dan dikomandani oleh Kapitänleutnant Heinz-Ehlert Clausen, kapal selam tersebut baru saja menyelesaikan UAK-Abnahme (Ujicoba Penerimaan UAK) pada tanggal 8 Juli 1941. U-403 langsung dikirim ke galangan kapal di Danzig untuk kelengkapan selanjutnya, termasuk pemasangan penahan angin di menara pengawas. Foto berwarna yang ditampilkan disini memperlihatkan dengan jelas emblem U-boat tersebut, yang merupakan Wappen (lambang) dari kota sponsor U-403, Halle an der Saale, dan menampilkan gambar matahari-bulan-bintang yang mirip-mirip simbol Islam. Emblem tersebut dipasang di kiri-kanan menara pengawas. Wappen ini telah dipasang dari sejak penugasan pertama di Danzig-Neufahrwasser.Gambarnya dicat di perisai metal yang kemudian dipasangkan di menara pengawas. Awak U-403 juga memakai emblem ini di topi mereka. Pada bulan Oktober 1941 U-403 menambahkan emblemnya sendiri, lalu pada musim semi tahun 1942 Wappen Halle dicopot dari kedua belah sisi menara pengawas sehingga hanya menyisakan emblem kapal. Di akhir bulan Oktober, U-403 telah menyelesaikan fase pelatihannya di AGRU-Front (juga pelatihan taktis dan persenjataan). Bukannya langsung bertugas ke front, kapal selam tersebut ditugaskan untuk menjadi kapal latihan bersama dengan 27. U-Flottille di Baltik, sehingga menimbulkan ketidakpuasan di kalangan awak dan kaptennya. U-403 digunakan untuk melatih para calon komandan U-boat di Pillau dan Memel. Hari yang ditunggu-tunggu itu tiba ketika pada tanggal 23 Februari 1942 U-403 dipindahkan dari Kiel ke Helgoland, dimana dari sana dia melakukan sorti operasional pertamanya pada tanggal 1 Maret 1942. Kapitänleutnant Clausen menambatkan kapalnya di Narvik 19 hari kemudian. Di musim semi tahun 1943 U-403 telah menyelesaikan lima patroli tambahan dari pangkalannya di Norwegia. Pada tanggal 1 Juli 1942 dia berada di bawah komando 11. U-Flottille di Bergen yang baru dibentuk. Pada tanggal 1 Maret 1943 penugasannya dialihkan ke 9. U-Flottille di Brest. Satu hari kemudian U-403 tiba di pangkalan Angkatan Laut Jerman yang terletak di pantai Samudera Atlantik tersebut dari Trondheim. Di bawah Kapitänleutnant Clausen, U-403 melakukan patroli lainnya pada bulan April-Mei 1943. Meskipun pada bulan Mei 1943 jumlah kehilangan U-boat yang menjadi korban dalam pertempuran begitu besarnya, tapi Clausen berhasil membawa kapalnya kembali ke Brest. Tak lama kemudian terjadi perubahan komando kapal, kemungkinan karena Clausen dianggap tidak terlalu berhasil dalam masa penugasannya, dengan hanya mampu menenggelamkan dua buah kapal dengan total tonase 12.946 ton dalam tujuh patroli. Di bawah komandannya yang baru, Kapitänleutnant Karl-Franz Heine, U-403 berlayar dari Brest untuk melakukan patroli kedelapannya pada tanggal 13 Juli 1943. Pesan terakhir dari kapal tersebut diterima 10 hari kemudian, ketika dia melaporkan telah mendapat serangan udara di posisi 46 N 10 W. Tak ada pesan lagi yang diterima, sehingga kemudian Befehlshaber der Unterseeboote (BdU) menyimpulkan bahwa U-403 telah tenggelam oleh serangan udara pada tanggal 23 Juli. Karenanya, pada tanggal 27 Agustus 1943 kapal tersebut dinyatakan sebagai "x" (kemungkinan tenggelam), dan pada tanggal 18 Mei 1944 sebagai "xx" (hilang). Pada kenyataannya, U-403 telah selamat dari serangan tersebut. Ketiadaan pesan radio lanjutan kemungkinan besar dikarenakan peralatan radionya rusak dalam serangan tersebut. U-403 pada akhirnya tenggelam, tapi tidak sampai empat minggu kemudian pada tanggal 18 Agustus 1943 di dekat pantai Afrika Barat, setelah mendapat serangan pesawat Wellington dari Nr. 344 Squadron yang dipiloti oleh orang Prancis. Dari 50 orang awaknya, tak ada satu orangpun yang selamat. Ternyata, komandan baru U-403 tidak membawa keberuntungan bagi para awaknya...



 Komandan U-403, Kapitänleutnant Heinz-Ehlert Clausen, difoto di dermaga Teluk Danzig selama berlangsungnya Zoppoter Woche (Minggu Zoppot) di bulan Juli 1941. Kapal selamnya berada di kanan latar belakang. Di hari yang sama Clausen menggunakan kameranya untuk mengabadikan dua buah foto berwarna U-403 yang ikut ditampilkan disini. Kapitänleutnant Clausen (lahir tanggal 12 Juli 1909) selamat sampai dengan akhir perang dan meninggal pada tanggal 24 Maret 1987. Patroli perangnya hanya dijalani bersama dengan U-403 (7 patroli dan 191 hari di lautan), dengan dua kapal ditenggelamkan (total tonase 12.946 ton). Medali dan penghargaan yang diterimanya: Eisernes Kreuz II.Klasse (26 Mei 1940) und I.Klasse (4 Oktober 1942); Kriegsabzeichen für Minensuch-, U-Boot-Jagd- und Sicherungsverbände (23 Oktober 1941); U-Boots-Kriegsabzeichen (26 Februari 1942); serta Kriegsverdienstkreuz II.Klasse mit Schwertern (1 September 1944)


Meskipun foto yang ditampilkan disini bukanlah dari jenis yang mempunyai kualitas mumpuni, tapi dia tetap merupakan salah satu dari foto berwarna asli super langka yang memperlihatkan penampakan pasukan kapal selam Jerman dalam Perang Dunia II. Foto ini kemungkinan besar diambil pada saat pengujian crash dive (selam cepat) di Laut Baltik pada bulan November 1941. Diambil dari dek U-595, terlihat kapal selam lain yang memakai emblem putih UAK (Unterseebootsabnahmekommando) di atas menara pengawasnya, sedang berlayar menuju fjord Kiel. Emblem putih UAK sendiri hanya disematkan di kedua belah sisi menara pengawas selama berlangsungnya ujicoba ketahanan U-boat. Setelah lolos ujicoba UAK pada tanggal 11 Desember 1941, U-595 berangkat menuju Agru-Front (Hela) di perairan dalam Teluk Danzig untuk menjalani pelatihan lanjutan yang berlangsung dari tanggal 12 s/d 22 Desember 1941. Lalu, tanggal 23 Desember-nya, kapal selam tersebut bergabung dengan 8. Unterseebootsflottille (8th Submarine Flotilla) di Königsberg. Bersama Flotila ini, yang pada bulan Februari 1942 pindah ke pangkalan baru di Danzig, U-595 menjalani serangkaian ujicoba selam kedalaman, pengukuran kecepatan, antisipasi bom barel, perbaikan kerusakan, penembakan torpedo siang dan malam hari, serta pelatihan penggunaan senjata dek. Tes-tes tersebut, yang berlanjut sampai dengan tanggal 31 Juli 1942, mencakup juga beberapa pelatihan taktis di darat. Tes terakhir adalah sesi monitor suara yang dilangsungkan di Rönne/Bornholm. U-595 sendiri dibuat oleh Blohm & Voss di Hamburg. U-boat dari Tipe VIIC ini kemudian mulai bertugas pada tanggal 6 November 1941 dengan komandan pertamanya adalah Oberleutnant zur See Jürgen Quat-Faslem. Dari Hamburg, U-595 berlayar menyusuri sungai Elbe dan Kanal Kaiser-Wilhelm sampai ke Laut Baltik. Perjalanan pertama ini bukannya tanpa kendala, dan kapal selam tersebut beberapa kali membawa serta pilot Luftwaffe untuk membantu dalam masalah navigasi. Setelah tiba di Kiel, U-595 menjalani 14 hari ujicoba UAK, yang diantaranya adalah tes selam kedalaman, penggunaan kompas gyro, dan pengawasan suara kapal oleh UAG-Schall di Sonderburg, Denmark. Mikrofon bawah-air menangkap suara yang dikeluarkan oleh kapal selam tersebut, yang berlayar dalam kecepatan yang berbeda-beda. Tujuannya adalah untuk membuat U-595 lebih sulit untuk dideteksi manakala dia sudah mulai bertugas


Foto ini diambil pada bulan Januari/Februari 1942 di salah satu pangkalan pelatihan U-boat di Teluk Danzig, dan memperlihatkan Obersteuermann Georg Schwarz sedang bertugas di depan menara pengawas U-595. Kita bisa melihat dengan jelas emblem "Frosch" (Kodok) dari U-595 yang didesain dan dicat oleh 1. Wachtoffizier (Perwira Pengawas Pertama) Leutnant zur See Friedrich Kaiser saat kapal selam tersebut masih menjalani serangkaian ujicoba di Agru-Front. Pada tanggal 14 November 1942, U-595 rusak berat setelah mendapat serangan bom Sekutu di lepas pantai Oran di Mediterania, sehingga pada akhirnya terpaksa ditenggelamkan oleh awaknya sendiri demi menghindari jatuh ke tangan musuh. Dua awaknya gugur, sementara sisanya menjadi tawanan perang


  Meskipun pelabuhan-pelabuhan di Prusia Timur dan Barat biasanya tetap aktif beroperasi di musim dingin yang membekukan karena cuaca mereka yang lebih hangat dibandingkan dengan wilayah Jerman lainnya, tapi musim dingin tahun 1941-42 memecahkan semua rekor terdingin yang pernah ada. Pada pertengahan bulan Januari 1942, udara beku Siberia mengalir melewati wilayah-wilayah bertekanan tinggi diatas Rusia dan Eropa Utara. Hanya dalam waktu semalam, temperatur di pelabuhan-pelabuhan Baltik Prusia Timur dan Barat langsung anjlok sampai 20 derajat celcius di bawah nol! Tanpa ampun, perairan pun langsung membeku dalam waktu singkat, dan menjebak semua kapal yang berlabuh disana, termasuk sekumpulan U-boat yang berada di pangkalan pelatihannya. Flotilla-flotilla U-boat di Danzig, Pillau dan Gotenhafen dipaksa untuk menghentikan pelatihan praktis di dalam kapal selam. Kapitänleutnant (Ing.) Otto Elwert, seorang instruktur di 2. Unterseeboote-Lehrdivision (ULD, Divisi Pelatihan Kapal Selam Kedua) di Gotenhafen, mengabadikan keadaan sulit yang menimpa 22. U-Flottille di Gotenhafen-Oxhöft dengan menggunakan rol film berwarna Agfa. Foto-foto yang kemudian tercetak memperlihatkan kapal-kapal selam Kriegsmarine yang membeku di perairan es. Pada saat itu 22. U-Flottille memiliki 18 buah kapal latih: U-8, U-14, U-19, U-56, U-57, U-58, U-59, U-78, U-137, U-138, U-139, U-140, U-142, U-143, U-145, U-146, U-149, dan U-150 (semuanya berasal dari U-boat Tipe II, kecuali U-178 yang merupakan Tipe VIIC). ULD Kedua sendiri dibentuk pada bulan Juni 1940 dan memulai operasional pelatihannya di pangkalan Gotenhafen pada tanggal 1 November 1940. Komandan pertamanya adalah Fregattenkapitän Werner Hartmann yang berusia 39 tahun dan telah dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 9 Mei 1940 setelah dengan sukses menjadi Kapten U-37. Hartman berasal dari Kru 21 dan usia serta kesuksesan yang telah diraihnya membuat dia menjadi seorang komandan unit pelatihan yang ideal. Tapi ternyata peranan barunya hanya berumur pendek, dan pada bulan November 1941 dia menyerahkan tongkat komando kepada Fregattenkapitän der Reserve Ernst Hashagen. Komandan kedua ini bukanlah berasal dari generasi baru para kapten U-boat berpengalaman, melainkan veteran Perang Dunia Pertama yang pernah menjadi Kapten UB-21 dan U-62 dalam perang tersebut. Unit lain yang berada di bawah komando 2. ULD adalah 22. U-Flottille dibawah pimpinan Korvettenkapitän Wilhelm Ambrosius. Flotilla ini, yang bertanggungjawab terhadap masalah pelatihan praktis, dibentuk pada bulan Januari 1940. 2. ULD bertanggungjawab terhadap masalah pelatihan dasar bagi awak U-boat serta kursus kepelatihan bagi para perwiranya. Para murid diajari mengenai masalah mesin, senjata dan torpedo di bangunan-bangunan khusus milik 2. ULD. Peraturan mensyaratkan bahwa pelatihan berlangsung selama 3-4 bulan, tapi bisa juga lebih singkat tergantung kondisi. Pada saat itu kebanyakan partisipannya tinggal di kapal-kapal penumpang milik 2. ULD yang mulai dipakai dari bulan November 1940. Kapal-kapal ini merupakan bekas kapal pesiar “Kraft durch Freude” (Kekuatan Lewat Kegembiraan) Wilhelm Gustloff, juga Hansa dan Oceana. Wilhelm Gustloff, yang sebelumnya dipakai untuk kepentingan militer sebagai kapal rumah sakit, kini menemukan tempat berlabuh permanen di Gotenhafen-Oxhöft. Setidaknya 1.000 orang anggota 2. ULD tinggal di kapal tersebut. Mayoritasnya merupakan peserta kursus, meskipun sebagian instruktur - golongan apa yang dinamakan sebagai "personil inti" - juga tinggal di kapal. Orang-orang U-boat ini makan sehari-hari di kapal, dan beberapa kegiatan penyegaran serta permainan diadakan demi menjaga agar kejenuhan tidak melanda (sebagai contoh, film dipertontonkan dua kali dalam sehari). Pada awalnya kapal-kapal ini menyediakan sendiri kebutuhan mereka akan tenaga, uap dan air, tapi dari sejak tahun 1943 sebuah pembangkit listrik tenaga uap disediakan di lepas pantai untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan dimaksud bagi ketiga kapal tersebut. Sebagian besar "personil inti" yang sudah menikah memilih untuk tinggal bersama keluarga mereka di beberapa buah apartemen yang berada di Gotenhafen


Suasana pangkalan 22. Unterseeboots-Flottille (22. U-Flottille) di teluk pelabuhan Gotenhafen-Oxhöft yang membeku akibat cuaca ekstrim di musim dingin tahun 1941-42. Yang memakai skema kamuflase lima-warna di sebelah kiri adalah kapal pengawal U-boat "Erwin Wassner", sementara di sebelah kanannya adalah tiga buah U-boat latih Tipe II milik 22. U-Flottille yang terjebak di perairan beku tanpa sempat untuk menyelamatkan diri. Pengawal kapal selam tersebut mengawali karirnya di lautan sebagai "Gran Canaria" pada tanggal 21 Januari 1938, sebelum diambil alih hak kepemilikannya oleh Kriegsmarine di tahun yang sama. Setelah mendapat modifikasi yang diperlukan, pada tanggal 29 Maret 1939 dia operasional kembali dengan nama baru, "Erwin Wassner". Namanya sendiri diambil dari jagoan U-boat dalam Perang Dunia I yang juga adalah peraih Pour le Mérite, Erwin Wassner. Pada tahun 1930-an Wassner bertugas sebagai atase militer Jerman di London, dengan pangkat Konteradmiral, sebelum meninggal pada tahun 1937. Setelah Perang Dunia II pecah pada tahun 1939, F.d.U. (Führer der Unterseeboote) Karl Dönitz dan staff-nya memutuskan untuk menggunakan nama Erwin Wassner sebagai nama salah satu kapal komando Kriegsmarine, sampai dengan bulan November 1939 ketika staff operasi, yang telah direorganisasi ulang menjadi B.d.U. (Befehlshaber der Unterseeboote) di bulan Oktober sebelumnya, pindah markas ke Sengwarden yang terletak di dekat Wilhelmshaven. Kapitän zur See Hans-Georg von Friedeburg, Kepala Departemen B.d.U. yang bertanggungjawab terhadap masalah pasokan suplai bagi seluruh organisasi, menjadikan "Erwin Wassner" sebagai markas bergeraknya, termasuk saat kapal tersebut berlabuh di Gotenhafen-Oxhöft pada awal tahun 1942. Di malam tanggal 23-24 Juli 1944, "Erwin Wassner" ditenggelamkan oleh bom-bom pesawat Sekutu saat serangan udara malam yang dilancarkan oleh RAF Bomber Command di pelabuhan Kiel. Foto ini diambil oleh Kapitänleutnant (Ing.) Otto Elwert, seorang instruktur di 2. Unterseeboote-Lehrdivision (ULD, Divisi Pelatihan Kapal Selam Kedua) di Gotenhafen


 Suasana pangkalan 22. Unterseeboots-Flottille (22. U-Flottille) di teluk pelabuhan Gotenhafen-Oxhöft yang membeku akibat cuaca ekstrim di musim dingin tahun 1941-42. Kedua U-boat dari Tipe VIIC ini terjebak dalam perairan yang kini menjadi es. Karena pada saat foto ini diambil (awal tahun 1942), 22. U-Flottille hanya mempunyai satu buah kapal selam Tipe VIIC (U-178), maka kemungkinan besar kapal-kapal dalam foto ini adalah kapal baru yang sedang menjalani proses pengujian sebelum dinyatakan layak untuk operasional. Ketebalan pecahan es yang mengambang menunjukkan bahwa pada awalnya kapal-kapal yang terjebak dapat menembus melaluinya, hanya saja kemudian cuaca yang semakin membeku dalam waktu yang singkat membuat es-es tersebut berubah menjadi kumpulan solid yang tak terurai lagi


 Foto berwarna ini diambil oleh Kriegsberichter Gerhard Garms pada tahun 1942, dan memperlihatkan siluet para personil U-boat saat bertugas di “Brückenwache” (Pengawas Jembatan) ketika lautan sedang bergelora. Kondisi samudera semacam ini dapat memberikan ancaman tersendiri bagi para Pengawas Jembatan bila dia tidak memperhitungkan tinggi ombak yang datang. Pengawasan keadaan sekitar di ruang terbuka seperti ini adalah salah satu tugas awak U-boat yang paling penting. Memperhatikan empat penjuru mata angin bagaikan sebuah "tugas suci", dimana nasib dan kesuksesan kapal selam tergantung padanya. Kecerobohan dalam hal ini dapat menimbulkan konsekuensi yang fatal. Pengawas Jembatan biasanya terdiri dari empat orang: satu perwira dan seorang lagi berdiri menghadap ke depan di menara pengawas, sementara satu bintara dan seorang lagi di belakang mereka. Dengan menggunakan teropong, setiap petugas jaga harus mengamati sektor bagian mereka yang telah ditentukan tanpa terhenti. Tiap lima menit sekali, masing-masing petugas harus memberikan laporan bahwa “Sektor ist frei melden” (sektor clear), bila memang begitu keadaannya. Peraturan melarang keras adanya percakapan antar petugas jaga. Laporan pengawasan harus dibuat dalam bahasa yang jelas dan tepat guna sambil menunjukkan jari ke arah yang dimaksud. Petugas jaga juga dilarang untuk merokok saat bertugas. Di wilayah dimana diperkirakan tak ada ancaman dari udara, awak U-boat lain diperbolehkan untuk ikut nongol di menara pengawas, sekedar untuk merokok, tapi tidak boleh lebih dari dua orang dalam sekaligus (di luar dari empat orang lain yang bertugas jaga). Di malam hari, merokok di menara pengawas sama sekali terlarang. Brückenwache diharapkan untuk lebih waspada lagi di wilayah-wilayah dimana potensi ancamannya sangat besar (Bay of Biscay dan Laut Utara), serta dalam situasi-situasi khusus. Termasuk diantara yang terakhir adalah saat kapal berhenti, senjata dek digunakan, berpapasan dengan kapal selam lain, serta dilamgsungkannya interogasi awak kapal musuh yang selamat. Pada saat-saat semacam ini, perhatian Brückenwache dengan mudah dapat teralihkan, sehingga berakibat pada terpecahnya konsentrasi. Bahaya serangan dadakan muncul terutama pada situasi tersebut. Karena efek cahaya matahari yang menyilaukan, para Petugas Jaga juga diwajibkan untuk mengenakan kacamata hitam ketika sang surya berada di kuadran mereka. Para petugas ini diganti setiap dua atau empat jam sekali, dengan interval masa pergantian tiap lima menit selama satu jam penuh. Hal ini untuk mencegah agar tidak terlalu banyak orang berada di menara pengawas saat tiba-tiba harus menyelam (crash dive), dan juga untuk memberi waktu bagi Petugas Jaga yang baru untuk beradaptasi dengan kegelapan atau cahaya. Khusus untuk malam hari, 15 menit sebelum waktu pergantian, Petugas Jaga baru terlebih dahulu memakai kacamata infra merah di bawah dek. Petugas Jaga lama hanya boleh pergi manakala yang menggantikannya sudah beradaptasi selama beberapa menit dengan lingkungan sekitarnya. Peraturan mensyaratkan bahwa Perwira Pengawas dan Petugas Jaga terbaik bekerja di waktu-waktu yang dianggap paling berbahaya. Penugasan Petugas Jaga sendiri merupakan kewenangan penuh dari kapten kapal. Saat laut bergelora dengan ombak tinggi mencapai menara pengawas, pekerjaan pengawasan semacam ini menjadi sebuah tugas yang menuntut kemampuan maksimal dari para awak U-boat. Bila angin, udara dingin, hujan atau kabut ikut hadir, maka orang-orang ini kadangkala sudah dalam keadaan lelah luar biasa saat tiba waktunya untuk diganti. Dalam kondisi alam yang tidak bersahabat tersebut, sang kapten biasanya memerintahkan para Petugas Jaga untuk memakai sabuk pengaman, yang dapat mencegah mereka terbawa ombak besar. Sabuk ini hanya bisa dilepas juga atas perintah kapten. Pintu keluar di menara pengawas selalu dalam keadaan tertutup apabila ombak sedang tinggi agar air tidak masuk ke dalam. Tanpa Brückenwache yang efisien, maka sebuah U-boat mempunyai kemungkinan yang kecil untuk selamat atau sukses dalam misinya


Foto berwarna ini diambil oleh Kriegsberichter Gerhard Garms pada tahun 1942, dan memperlihatkan saat “Brückenwache" (Pengawas Jembatan) sedang bekerja mengawasi kondisi sekitar tak lama setelah usainya badai lautan yang ganas. Mereka masih mengenakan jaket dan topi karet anti air yang merupakan perlengkapan wajib di saat kondisi laut sedang tidak bersahabat. Selain dari empat pengawas yang merupakan jumlah standar saat bertugas, terlihat pula seorang Obersteuermann (Kelasi Pertama) yang berada di balik periskop, sedang mempersiapkan alat sekstan (alat navigasi untuk menentukan sudut antara kapal dengan benda-benda lain, baik benda-benda di darat maupun benda angkasa) untuk keperluan “Sonne zu Schießen” (melihat matahari). Dia bertanggungjawab untuk keakuratan navigasi kapal dan memanfaatkan setiap kesempatan yang tersedia untuk melihat posisi matahari demi menentukan arah kapalnya. Hanya sang Obersteuermann dan Kapten Kapal yang boleh menuliskan posisi serta arah U-boat mereka menuju. Foto berwarna ini juga memperlihatkan detail menarik yang tidak mungkin didapatkan dari foto hitam-putih biasa: beragam warna berbeda dari jaket karet yang mereka kenakan, dari krem sampai ke hijau pucat dan hijau gelap


Pekerjaan pemeliharaan dan perawatan pada pada senjata 37mm anti pesawat udara yang terpasang di dek U-boat, yang dilakukan ditengah ganasnya ombak lautan, dengan jaket pelampung serta tambang keselamatan sebagai satu-satunya alat pengaman. U-boat Kriegsmarine dari Tipe I, VII, IX dan X memiliki senjata tambahan yang sangat kuat yang ditempatkan di dek atas. Setiap kapal memiliki satu buah senjata ini yang terpasang di depan menara komando dan, apabila ditangani oleh awak yang handal, mereka bisa memuntahkan 15-18 tembakan dalam satu menit. Senjata dek sering digunakan untuk menghabisi kapal yang rusak atau menenggelamkan kapal berukuran kecil. Awaknya rata-rata terdiri dari 3 s/d 5 orang, dan biasanya dikomandani oleh Perwira Pengawas Kedua (IIWO). Untuk dapat menggunakan senjata ini, maka U-boat harus muncul di permukaan, sehingga karenanya secara umum dia tidak difungsikan manakala terdeteksi adanya pesawat musuh di sekitar.Untuk mengangkut amunisinya, diperlukan rantai manusia (dengan tiga orang berada di dek) untuk membawa peluru dari ruang penyimpanan utama di bawah ruang kontrol sampai ke senjata di luar. Selongsong yang telah digunakan biasanya lalu dibawa kembali ke dalam. Sebagian U-boat dilengkapi dengan ruang penyimpanan amunisi kecil yang tahan air di dek agar dapat mulai menembak dengan segera manakala perintah telah diberikan. U-boat Tipe II untuk patroli pesisir pantai tidak dilengkapi dengan senjata dek. Pada tahun 1937 dibuat rancangan untuk U-boat penjelajah Tipe XI yang rencananya dipersenjatai dengan empat buah senjata dek kaliber 127mm di dua menara yang terpisah. Rancangan ini tidak pernah masuk dalam tahap produksi


  Foto hasil karya Walter Frentz ini pertama kali dipublikasikan dalam majalah SIGNAL edisi bulan Februari 1943 untuk menyambut pengangkatan Panglima Kriegsmarine yang baru, Karl Dönitz (menggantikan Erich Raeder yang dianggap gagal memaksimalkan kemampuan Angkatan Laut Jerman dalam Perang Dunia II). Dari kiri ke kanan: Kapitänleutnant Adalbert Schnee (Geleitzugs-Asto, Admiralstabsoffizier beim Befehlshaber der Unterseeboote), Generaladmiral Karl Dönitz (Befehlshaber der Unterseeboote), dan Kapitän zur See Eberhard Godt (Chef der Operationsabteilung beim Befehlshaber der U-Boote). Mereka sedang mempelajari peta samudera yang terhampar di meja. Foto ini sendiri diambil di ruangan operasi U-boat di markas besar Kriegsmarine di Berlin (Marinehauptquartier Koralle)



Foto yang pertama kali dipublikasikan oleh majalah SIGNAL edisi bulan Mei 1943 dan kemungkinan besar diambil pada saat pelatihan ini memperlihatkan seorang awak U-boat sedang menyelam di dekat pintu keluar dengan menggunakan tauchretter  Tauchretter (alat penyelamat penyelam) adalah satu set peralatan bernafas yang memungkinkan pemakainya untuk dapat selamat untuk sementara waktu di lingkungan tanpa udara, terutama di bawah air. Alat ini pada awalnya dirancang supaya si pemakai dapat bernafas selama mungkin sampai dia mencapai tempat dimana udara telah tersedia. Kita dapat melihat contoh penggunaannya dalam film "Das Boot", "Haie und kleine Fische", dan "In Enemy Hands"

Sumber :
Buku "Wolfpacks At War: The U-Boat Experience In WWII" karya Jak Mallmann Showell
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.2 - 2007 
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.3 - 2008 
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.4 - 2008
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.5 - 2009
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.6 - 2010
www.uboat.net
www.ullsteinbild.de
www.ww2colorfarbe.blogspot.com

Foto Seragam Feldgrau (Abu-Abu Lapangan) Kriegsmarine

 Kadet Kriegsmarine IX/39 - yang berarti bahwa orang-orang ini bergabung dengan Angkatan Laut Jerman pada bulan November 1939 - mengenakan seragam abu-abu lapangan Kriegsmarine selama pelatihan awal mereka. Banyak dari kegiatan ini yang tampak agak berbahaya dan "berlebihan" (bagi orang-orang yang nantinya bertugas di lautan), tapi siapapun yang melewati proses tersebut akan tahu bahwa hal semacam ini akan menyedot energi dari tubuh sehingga membuat sulit untuk berkonsentrasi dan membidik senjata secara akurat


Sumber :
Buku "Wolfpacks At War: The U-Boat Experience In WWII" karya Jak Mallmann Showell

Foto 718. Infanterie-Division / 118. Jäger-Division

118. Jäger-Division dibentuk pada bulan April 1943 sebagai hasil reorganisasi dari 718. Infanterie-Division (yang telah eksis dari bulan April 1941). Perubahan orientasi dari divisi infanteri menjadi divisi Jäger (Pemburu/Infanteri Ringan) memampukan unit tersebut untuk lebih leluasa bertempur di kondisi alam yang sulit seperti hutan rimba dan pegunungan. Pada bulan Mei 1941, 118. Jäger-Division dikirim ke Yugoslavia untuk melakukan operasi-operasi anti gerilyawan serta pengamanan obyek-obyek vital. Divisi ini ikut ambil bagian dalam Pertempuran Sutjeska pada bulan Juni 1943 dan beraksi melawan kaum Partisan di Bosnia sebelum ditransfer ke wilayah pantai Dalmatia untuk berjaga-jaga dari kemungkinan pendaratan oleh Sekutu di musim panas tahun 1944. Selanjutnya, 118. Jäger-Division beroperasi di Front Timur dan dalam Ofensif Wina di bulan-bulan terakhir Perang Dunia II sebelum menyerahkan diri pada pasukan Inggris di Austria di bulan Mei 1945


 Para anggota dari Jäger-Regiment 750 / 118.Jäger-Division dikumpulkan di pelabuhan Korčula setelah tertangkap oleh pasukan Partisan (NOVJ) dari Divisi Dalmatia ke-26 yang melakukan pendaratan di pulau yang terletak di wilayah Kroasia (Laut Adriatik) tersebut, bulan April 1944. Hal ini juga adalah sebagai pembalasan dari divisi Partisan itu terhadap divisi Wehrmacht, atas kekalahan yang diderita selama berlangsungnya ofensif militer Jerman yang dinamai sebagai Unternehmen Herbstgewitter (Operasi Hujan Musim Gugur) di tahun 1943 sebelumnya. Dalam fase pertama operasi (bulan Oktober 1943), elemen-elemen dari 7. SS-Freiwilligen-Gebirgs-Division "Prinz Eugen" dan 118. Jäger-Division mampu memaksa Brigade Dalmatia ke-13 keluar dari Korčula, memusnahkan setengah dari kekuatannya, dan bahkan membunuh sang komandan, Niko Martinović. Lima bulan kemudian, Divisi Dalmatia ke-26 berhasil menguasai kembali pulau Korčula dengan mengalahkan unit Wehrmacht yang sama. Atas kesuksesan ini, pemimpin Partisan Josip Broz Tito mendapatkan ucapan selamat dari komandan pasukan Sekutu di Mediterania, jenderal Inggris Henry M. Wilson


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com
www.en.wikipedia.org

Saturday, October 15, 2016

Foto Unternehmen Schneesturm (Operation Snowstorm / Badai Salju)

 Para anggota dari III.Bataillon / SS-Freiwilligen-Gebirgsjäger-Regiment 14 "Skanderberg" / 7.SS-Freiwilligen-Gebirgs-Division "Prinz Eugen" memberi salam hormat Nazi di depan makam rekan-rekan seperjuangan mereka yang terbunuh oleh kelompok Partisan (NOVJ) dalam pertempuran di dekat desa Duboštica (Vareš), yang berlangsung pada hari Natal tanggal 25 Desember 1943 - sebagai bagian dari Unternehmen Schneesturm (Operasi Badai Salju). Hanya berselang dua tahun kemudian, sebagian besar dari orang-orang ini juga akan terkubur di dalam tanah saat Natal menjelang. Mereka-mereka yang beruntung bertahan hidup - biasanya dipersiapkan untuk menjalani pengadilan penjahat perang - merayakan Hari Natal di dalam penjara secara sederhana. Berikut ini adalah pengalaman semacam tersebut yang berasal dari penuturan Wilhelm Ebeling, seorang perwira dari Divisi SS Handschar, yang termuat dalam buku "Vorwärts, Prinz Eugen!" karya Otto Kumm: "Seorang bintara Yugoslavia yang baik hati mendapat giliran jaga di malam ini. Kami mengajukan izin kepada dia untuk menyanyikan beberapa buah lagu dan menggunakan lampu penerang lebih lama dari biasanya. Dia dengan murah hati memberikan izin. Lalu mulailah perayaan Natal kami. Saat itu kami tidak punya lilin, apalagi ranting pohon pinus... kami lalu menyanyikan beberapa buah lagu Natal... yang dilanjutkan dengan pertukaran 'hadiah'. Para senior telah mempersiapkan beberapa buah roti jagung di hari sebelumnya. Roti tersebut diberikan kepada para prajurit yang lebih muda, yang sekarang memakannya dengan lahap sambil mengklaim bahwa rasanya bagaikan kue madu terbaik! Beberapa batang rokok juga turut 'hadir' di dalam sel, entah darimana datangnya, dan benda berharga tersebut dibagikan secara adil. Tak lama kemudian terdengar perintah dalam bahasa Serbia, 'Tišina!' (diam), dan lampu penjara pun mati". Foto oleh SS-Kriegsberichter Hugo Kemps


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com

Foto Masa Lalu dan Kini (Now and Then)

NORMANDIA


 Foto ini diambil oleh SS-Kriegsberichter Klaus Pachnike pada tanggal 25 Juni 1944 di jalan persimpangan antara D9 (Rue Saint Martin) dan D139 (Rue Flavacourt), yang terletak di wilayah Fontenay-le-Pesnel, sebelah tenggara Tilly, Normandia (Prancis). Pada saat itu pasukan gabungan Panther dan Panzergrenadier dari Kampfgruppe Wünsche berusaha menghambat gerak maju pihak Inggris dalam Operation Martlet. Seorang Grenadier berusaha memeriksa jalan D139 yang mengarah pada wilayah utara dari Fontenay-le-Pesnel. Dari arah itulah serangan musuh datang. Di latar belakang terlihat Église Saint-Martin (Gereja Saint-Martin) yang sebagian bangunannya telah hancur. Saat ini, hanya menara loncengnya yang masih bertahan

------------------------------------------------------------------------

YUGOSLAVIA

 Foto masa lalu dan sekarang dari Dom Narodne Skupštine (House of the National Assembly) di Beograd. Setelah SEMBILAN orang anggota Waffen-SS dari Divisi "Reich" di bawah pimpinan Fritz Klingenberg menggunakan kekacauan massal yang terjadi di ibukota Yugoslavia tersebut untuk secara resmi menguasainya pada tanggal 12 April 1941, siang keesokan harinya digelar parade kemenangan oleh penakluk sebenarnya dari Beograd, Panzergruppe 1. Foto kiri, yang diambil pada saat tersebut (13 April 1941), memperlihatkan tank-tank dari Panzer-Regiment 15 / 11.Panzer-Division "Gespensterdivision" (Divisi Hantu) berparade di depan para komandan mereka. Dari kiri ke kanan: Oberstleutnant Gustav-Adolf Riebel (Kommandeur Panzer-Regiment 15), Generaloberst Ewald von Kleist (Oberbefehlshaber Panzergruppe 1), dan Generalmajor Ludwig Crüwell (Kommandeur 11. Panzer-Division). Kejatuhan Beograd juga diabadikan dalam lagu "Panzer Voran / Lied der Panzergruppe Kleist" karya Norbert Schultze dan Jürgen Hahn-Butry: "Wir wurden Sieger über Belgerad. Wir haben jeden Widerstand bezwungen, und machten Schluß mit einem falschen Staat" (Kami adalah penakluk Beograd. Kami mengalahkan semua perlawanan, dan dengannya mengakhiri sebuah negara palsu). Crüwell nantinya bertempur bersama Rommel di Afrika Utara dan setelah perang menjadi Ketua Asosiasi Veteran Afrikakorps; Riebel terbunuh pada tahun 1942 di Stalingrad; sementara Kleist bunuh diri pada tahun 1954 di kamp tawanan Soviet sebagai tertuduh penjahat perang


 Pada bulan Oktober 1942, II.Bataillon / SS-Gebirgsjäger-Regiment 2 / SS-Freiwilligen-Gebirgs-Division "Prinz Eugen" tiba di kota Topola, Serbia, untuk mengadakan pelatihan tambahan bagi para anggotanya (pelatihan tersebut diselenggarakan di sebuah taman besar, yang juga sekaligus menjadi markas batalyon tersebut selama masa kehadirannya disana). Para prajurit menggunakan kesempatan ini untuk berfoto-foto di depan Monumen Karađorđe di Oplenac. Monumen tersebut menampilkan figur Karađorđe Petrović yang merupakan pendiri Kerajaan Serbia dan Yugoslavia. Foto bawah adalah kondisi monumen di saat ini, yang tongkrongannya tidak jauh berbeda dengan di bulan Oktober 1942 saat foto pertama diambil



Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com
www.wehrmacht-awards.com

Monday, October 10, 2016

Foto Kunjungan Unit Militer dan Interaksi dengan Unit Lain

Seperti halnya kebiasaan setiap prajurit militer di berbagai belahan dunia, kegiatan di luar dari keseharian rutin biasanya diabadikan dengan kamera foto atau film. Para Pengintai ini (anggota Aufklärungstruppe) berpose dengan seragam lengkap saat mengadakan kunjungan ke salah satu fasilitas Angkatan Laut. Mereka memakai Sonderbekleidung der deutschen Panzertruppen ( pakaian khusus pasukan tank Jerman) yang dipadukan dengan Schutzmütze (Baret Panzer). Kemungkinan besar foto ini diambil di masa sebelum Perang Dunia II atau awal-awal perang


Pada bulan Oktober 1942, para pilot dan perwira dari Kampfgeschwader 27 (KG 27) "Boelcke" berziarah sekaligus meletakkan karangan bunga di makam Oswald Boelcke - pilot terkemuka dari masa Perang Dunia I yang namanya dijadikan sebagai nama unit - di Dessau, dan juga melihat-lihat model pesawat yang dipiloti oleh sang legenda semasa hidupnya di museum khusus yang didedikasikan untuk Boelcke di kota tersebut. Dari kiri ke kanan: Stabsarzt Dr. Joachim Fähndrich (Geschwaderarzt), Oberleutnant Georg Brütting (Geschwaderstab), Oberleutnant Herbert Nack (Flugzeugführer di I./KG 27), Hauptmann Heinrich Klein (Staffelkapitän 2./KG 27. Ritterkreuz tanggal 10 Juni 1943), Leutnant Heinz Werner, Oberleutnant Gerhard Krems (Flugzeugführer di 2./KG 27. Ritterkreuz tanggal 25 Mei 1942), Major Rudolf Müller (Gruppenkommandeur I./KG 27. Ritterkreuz tanggal 6 Juli 1942), Major Joachim Petzold (Staffelkapitän 3./KG 27. Ritterkreuz tanggal 18 Mei 1943), Oberleutnant Ottmar Günthert (Gruppenadjutant I./KG 27), dan Hauptmann Wilhelm Werlin (Staffelkapitän 1./KG 27. Ritterkreuz tanggal 30 Desember 1942). Seusai perang, Brütting menjadi penulis buku, dan foto ini diambil dari salah satu hasil karyanya


Sumber :
Buku "Scouts Out: A History of German Armored Reconnaissance Units in World War II" by Robert Edwards, Michael H. Pruett and Michael Olive
www.forum.axishistory.com

Sunday, October 2, 2016

Foto Berwarna Jembatan Ponton

 Unternehmen Barbarossa, musim panas tahun 1941. Foto berwarna ini memperlihatkan sebuah perahu penyeberangan yang dibuat dari 8-tonne Brückengerät B (Bridge Equipment B). Kendaraan yang diangkut adalah ranpur Beute BA 10 tanpa turet hasil rampasan dari Soviet, yang biasa digunakan sebagai traktor penarik. Bruckengerat B adalah salah satu dari jenis jembatan ponton Wehrmacht yang paling banyak digunakan. Unit Pionier (Zeni) yang membawa jembatan ini dilengkapi dengan truk-truk dan kendaraan derek untuk menarik trailer pembawa ponton, papan kayu, motorboat, dan perlengkapan lainnya. 16 bagian ponton yang terbuat dari besi diperlukan untuk membuat satu jembatan utuh, baik secara berpasangan atau satu-satu. Bila digunakan secara berpasangan, maka panjangnya adalah 54 meter dengan kapasitas 16 ton, sementara bila digunakan secara satuan maka panjangnya adalah 83 meter dengan kapasitas 8 ton. Bagian dek dilengkapi dengan undakan besi dan pagar trotoar yang terbuat dari 26 buah papan kayu. Terdapat juga delapan buah bagian penopang yang terdiri dari papan jalan yang diperkuat dengan tiang besi yang bisa disesuaikan ukurannya, masing-masing dengan tiga kaki penguat. Hal ini memungkinkan penyambungan jembatan dengan perahu terapung ketika pinggiran sungai terletak lebih tinggi dibandingkan dengan jembatan pontonnya, atau ketika permukaan air di dekat pinggiran sungai terlalu dangkal untuk mampu mengapungkan ponton. Jembatan ini juga dapat menyesuaikan diri manakala sungai meluap atau menyurut. Beberapa tipe perahu penghubung bisa dibuat dengan menggunakan perlengkapan yang sama, dengan sebuah trailer dengan kabel difungsikan khusus untuk menarik jembatan ini maju-mundur. Setengah-ponton mempunyai panjang 3,5 meter dan lebar 1,5 meter. Sebuah perahu penghubung yang mempunyai kapasitas 4 ton memerlukan dua buah setengah-ponton serta satu buah bagian dek jembatan, sementara perahu ganda dengan kapasitas 8 ton memerlukan empat setengah-ponton serta dua dek, dan perahu kapasitas 16 ton menggunakan dua ponton penuh serta dua dek. jembatan ponton penuh Brückengerät B 8 ton atau versi perahu penghubung 16 ton-nya mampu menopang dan membawa semua jenis kendaraan yang bisa ditemukan di sebuah divisi infanteri Jerman atau divisi panzer awal perang, termasuk sebuah Panzer IV, meriam howitzer kaliber 150mm, dan halftrack penarik. Foto ini sendiri pertama kali dipublikasikan pada tahun 1942 dalam buku "Das Heer im Grossdeutschen Freiheitskampf" (Angkatan Darat dalam Pertempuran Akbar Jerman untuk Kebebasan) yang diterbitkan oleh Oberkommando des Heeres (OKH) untuk pasaran remaja Jerman


 Halftrack penarik yang tampak sedang melintasi sebuah sungai kecil dalam foto ini adalah Sd.Kfz.7 mittlerer Zugkraftwagen (8-ton) yang membawa baterai howitzer berat sFH18 kaliber 105mm. Sd.Kfz.7 adalah kendaraan penarik yang paling banyak digunakan oleh Wehrmacht di masa perang, dengan jumlah produksi tercatat sebanyak 10.257 unit. Perhatikan pula jembatan K-Gerät serta kamuflase dedaunan yang digunakan oleh kendaraan diatas! K-Gerät (Kastenträger-Gerät) adalah jembatan bongkar-pasang seberat 16 ton yang terdiri dari tiga bagian ponton atau blok dengan panjang total 78,8 meter. Desainnya merupakan hasil jiplakan dari jembatan Small Box Girder Inggris dan pertama kali dibuat pada pertengahan tahun 1930-an. K-Gerät menggunakan panjang panel yang sama seperti halnya SBG, hanya saja sedikit berbeda dalam hal detail penguatnya. Artikel yang dimuat dalam sebuah majalah militer Jerman terbitan tahun 1943 menjelaskan bahwa jembatan tersebut terutama sekali dipakai di Front Timur bersama-sama dengan tipe jembatan ponton lainnya, dan mengklaim bahwa "jembatan K-Gerät mempunyai performa yang memuaskan. Bentuknya sama dengan jembatan yang digunakan oleh pasukan musuh."

Sumber :
www.ww2colorfarbe.blogspot.com

Saturday, October 1, 2016

Foto Kampfgeschwader 76 (KG 76)

  Unteroffizier Heimo Nussbaumer dari 5.Staffel / II.Gruppe / Kampfgeschwader 76 (KG 76) menceritakan tentang kisahnya di Stalingrad: "Staffel kami bermarkas di aerodrome lapangan di Tazinskaya. Dengan menggunakan pesawat-pesawat Junkers Ju 88, kebanyakan kami dikirim untuk melakukan misi pengeboman dengan target-target besar seperti pabrik traktor, elevator gandum raksasa, "unit anti pesawat udara wanita" di deretan pulau di sungai Volga, dan ferry-ferry penyeberangan di malam hari. Di waktu kemudian kami mengetahui bahwa pihak Rusia telah membangun sebuah jembatan penyeberangan bawah air melintasi Volga (aku sendiri tak pernah melihatnya, karena itu adalah sesuatu yang mustahil di perairan yang coklat berlumpur dan sangat deras seperti sungai tersebut!). Sebagai seorang gunner, aku tidak hanya bertanggungjawab atas penanganan senapan mesin, tapi juga sebagai mekanik udara dan fotografer target. Untuk tugas terakhir, aku dilengkapi dengan kamera khusus berlensa tele 75mm yang dapat mengambil 13 foto perdetik, meskipun bukan sebuah kamera film. Seringkali terjadi bahwa tak ada yang bisa diambil gambar di Stalingrad yang terkepung karena begitu pekatnya asap hasil pengeboman serta bekas pertempuran yang terus menerus terjadi. Kami hanya pernah menyerang target spesifik secara terbatas sebanyak satu kali, yang nyaris dibayar dengan jiwa kami. Pada saat itu kami tak dapat melepaskan bom karena target yang tersedia tak sepenuhnya tercakup dalam visor penjejak, sehingga "sang pelatih" (pilot) harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk menukik tajam demi mendapatkan hasil pengeboman seakurat mungkin, yang berarti bahwa dibutuhkan lebih dari dua kali radius yang biasa dilakukan dalam waktu normal. Kalau saja pada waktu itu ketinggian air di Volga tidak berada 30 meter di bawah dataran kota, kami sudah pasti melayang menabrak daratan (kecepatan tukik sekitar 700km perjam)."


Sumber :
Buku "Winter Storm: The Battle for Stalingrad and the Operation to Rescue 6th Army" karya Hans Wijers

Foto Grup Jenderal Wehrmacht dan SS

 Para Regimentskommandeur (Komandan Resimen) dari Infanterie-Regiment 16 berfoto bersama dalam sebuah acara di Oldenburg-Kreyenbrück, hari minggu tanggal 23 Mei 1937. Dari kiri ke kanan: Generalmajor Hartwig von Platen (Komandan periode 1 April 1928 - 30 September 1929), General der Infanterie Hans Freiherr Seutter von Lötzen (Komandan periode 1 April 1925 - 30 September 1926), Oberst Hans Kreysing (Komandan periode 1 Oktober 1936 - 10 September 1940), General der Infanterie Leopold Freiherr von Ledebur (Komandan periode 27 September 1920 - 14 Juni 1921), Generalleutnant Johannes Severin (Komandan periode 15 Juni 1921 - 31 Maret 1925), Generalmajor der Luftwaffe Karl von Roques (Komandan periode 1 Oktober 1929 - 30 September 1931), dan Generalmajor Athos von Schauroth (Komandan periode 1 Oktober 1933 - 30 September 1936). Regimentskommandeur lain yang tidak nongol dalam foto ini adalah Generalmajor Erich Gudowius (Komandan periode 1 Oktober 1926 - 31 Maret 1928) dan Generalleutnant Gerhard Glokke (Komandan periode 1 Oktober 1931 - 30 September 1933)


Sumber :
www.historic.de